18 Februari 2008

INDONESIANA

Cuaca di Jakarta menurut bagian meteorologi dan geofisika, akan terjadi curah hujan yang frekwensinya cukup tingi, hal ini disebabkan mungkin, sudah bulannya musim penghujan, sehingga tidak disangkal lagi..terkadang hujan yang turun melebihi kapasitas yang biasanya terjadi. Hal tersebut belum lagi ditambah dengan banyak hujan yang turun untuk wilayah Bogor dan sekitarnya, hal tersebut bukan tidak mungkin akan berimbas kepada musibah banjir yang menimpa kota Jakarta.
Hal senada juga terjadi kemarin, hujan yang tidak henti-hentinya mengguyur kota Jakarta, berbuntut kepada banjir yang cukup meluas di beberapa titik rawan banjir di Jakarta, bahkan ada beberapa lokasi yang biasa tidak terendam banjir, tapi kali ini harus juga merasakan rendaman banjir yang cukup mencengangkan. Lihat saja daerah sekitar Istana Kepresidenan, daerah yang menjadi pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia ini juga terkena imbasnya dari debit air hujan yang mengguyur dengan derasnya kota Jakarta pada hari ini, hal tersebut menyebabkan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono harus berpindah mobil untuk dapat memasuki area istana yang terendam banjir yang tinggi melebih dengkul orang dewasa.
Sungguh tragis memang, begitu pula dengan suasana di area Bandara International Soekarno-Hatta, Cengkareng..puluhan Bus dan ratusan mobil yang terjebak macet juga menjadi korban dari dari tingginya curah hujan yang mengguyur Jakarta. Imbasnya...puluhan penumpang yang datang maupun pergi menggunakan angkutan Pesawat untuk tujuan Domestik maupun Luar negeri harus terkatung-katung di luar dan dalam area bandara. Karena akses keluar dan Masuk bandara Soekarno-Hatta saat itu lumpuh total. Mesin pemompa air yang ditempatkan di area KM 26 yang merupakan titik rawan banjir, tidak mampu melawan banyaknya air yang meluap menggenangi Jalan tol. Bahkan, Jalan Tol Bandara Soekarno Hatta yang dibagun Ir. Soediyatmo yang terkenal dengan sistem pondasi cakar ayamnya pun tiba-tiba ambles bebera centimeter ke dalam area rawa-rawa tempat tiang cakar ayam itu dipasang.
Sungguh lagi-lagi ironi bagi kita, Tempat yang merupakan central arus lalu lintas keluar masuknya para wisatawan domestik dan luar negeri harus disuguhi dengan pemandangan yang kurang baik, hal tersebut berimbas kuran baik kepada slogan Menteri Pariwisata yang menegaskan bahwa tahun 2008 merupakan tahun kunjungan dan sarana untuk menarik wisatawan luar negeri untuk datang dan berkunjung ke Indonesia.
Belum lagi ditambah permasalahan lain seputar aliran listrik, Belum lama ini sering kali terjadi pemadaman listrik dari PLN yang mungkin alasannya beragam dan bermacam-macam alasan yang biasa kita dengar apabila kita menelpon ke bagian customer service dari layanan PLN. Memang dari dahulu, untuk urusan pelayanan Publik, Indonesia masih sangat tertinggal jauh ke belakang dibanding negara-negara lain. Pelayanan dan fasilitas publik serta pra sarana yang menunjangpun masih jauh dibandingkan dari rata-rata. Sehingga, kejadian mati listrik, arus birokrasi yang berbelit-belit sudah menjadi lumrah dan bahkan hal biasa, sampai ada slogan yang berbunyi:"Harusnya Gampang kok dibikin Sulit??". Itulah potret negeri ini, Potret yang menggambarkan kehidupan suatu Bangsa yang mencerminkan manusia yang tinggal didalamnya. Pelik, Tragis, bahkan mencengankan!! tapi kembali...itulah Indonesia, kalo bukan begitu...ya bukan Indonesia namanya.

09 Februari 2008

KESEHATAN

Beberapa waktu lalu, ada beberapa dari saudara kita yang mengidap dan menderita penyakit. Mungkin sebagian ada yang tahu, atau juga belum..melalui rubrik kecil ini, kami sampaikan bahwa saudari kita Sisca anak ke 4 dari Bapak H. M. Chotib sedang dirawat secara intensif di RSPP Jakarta Selatan. Semoga, Allah angkat segala penyakit yang diderita, dan Allah sembuhkan seperti sedia kala, dan dijauhkan dari segala penyakit yang datang kepadanya. amin ya Robbal A'lamin.
Penyakit, atau rasa sakit, dalam pepatah Arab dikatakan sebagai berikut:"Kesehatan adalah laksana sebuah Mahkota yang dipakai oleh orang yang sehat, dan mahkota tersebut tidak akan terlihat, kecuali disaat orang tersebut dalam keadaan Sakit". Penyakit, sebagian dari kita ada yang menganggapnya sebagai cobaan ataupun musibah yang Allah berikan kepada Hamban-Nya, tapi sebagian orang ada juga yang berpendapat, bahwasanya dengan adanya penyakit, merupakan wacana sebagai pengangkatan dari dosa-dosa yang kita perbuat sehingga diampuni oleh Allah SWT. Secara logika, pendapat yang kedua ini memang agak sedikit berbeda dengan yang lain. Menurut penafsiran kami, ada benarnya...karena rasa kasih dan sayang Allah kepada Hambanya dapat diterjemahkan dan hadir dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang diberikan Allah dalam berupa nikmat, kemudaha, kesehata, kekayaan dan bermacam-macam nikmat yang ada di dunia ini. Namun, adapula Allah menghadirkannya dalam bentuk dan nuansa serta dimensi yang berbeda dari rasa kasih dan sayangnya kepada Hamba-Nya, hal demikian berupa sakit, kesulitan, dan beberapa cobaan yang diterjemahkan sebagian dari kita sebagai bentuk dari cobaan ataupun musibah yang Allah berikan kepada kita sebagai hambanya.
Sedikit membahas tentang hal diatas, dengan Allah memberikan hambanya beberapa cobaan dan musibah yang terkadang kita sering berkata,"Belum selesai musibah ini, datang lagi cobaan lainnya silih berganti". Ada baiknya kita kembali kepada Firman Allah SWT yang berbunyi:"Dan akan Aku (Allah) coba para hamba-hambaku dengan rasa takut, rasa lapar, dan kekurangan dalam hal materi, dan kekurangan dalam kesehatan serta buah-buahan/makanan. Dan berilah kabar gembira kepada Hamba-hambaKu yang bersabar, yang senantiasa apabila Aku timpakan kepada mereka berbagai macam musibah, mereka akan selalu berkata: Sesungguh segala yang ada adalah milik Allah, dan sesungguh semuanya akan kembali Kepada-Nya".
Perhatikan, sungguh sangat mulia agama Islam dalam menerjemahkan arti musibah..bagaimana Allah gambarkan rasa cinta, Kasih dan SayangNya kepada HambaNya dalam bentuk dan dimensi ketakwaan yang berbeda-beda. Akan tetapi perlu diingat, tak jarang dari kita lupa dan bahkan tidak terbayang bahwa ada ribuan hikmah yang terkandung yang terkadang kurang kita gali dan cerna secara mendalam. Bukankah dengan kita diberikan berbagai macam musibah, kita akan semakin mendekatkan diri kita dengan Allah SWT yang Maha Kuasa untuk memberi bahkan mencabut segala sakit, derita serta musibah yang Ia berikan kepada kita sebagai Hambanya? perlu di ingat, tanpa harus Allah berikan musibah, cobaan pun..seharusnya kita sebagai hambanya harus dan wajib untuk senantiasa berdoa, dan beribadah kepada Allah SWT, karena tujuan diciptakannya manusia di Bumi ini adalah tugas utamanya untuk beribadah kepadaNya dengan Jalan menjadi khalifah di muka bumi ini.
Mudah-mudahan, dengan rasa sakit, cobaan serta musibah yang sedang menimpa kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT zat yang Maha menguasai dan Maha mempunyai dari segala urusan yang kita Miliki. Pesan kami, Memintalah, Berdoalah....maka Allah akan senantiasa Menjawab dan mengabulkan segala permintaan HambaNya!!

05 Februari 2008

POTRET KITA

Belum Lama ini, kami coba bercerita tentang tanggapan beberapa orang tua tentang hasil pembicaran dari apa yang dikemukan oleh Saudari Nena pada saat arisan keluarga kemaren. Memang sungguh beragam tanggapan yang dapat kami dengar, ada beberapa yang dengan semangat untuk terus menyerukan perubahan dan perbaikan, ada pula yang menanggapinya sebagai sebuah potret hal yang tidak wajar untuk disampaikan ditengah2 forum yang merupakan wadah yang tujuan utamanya adalah silaturahmi, malah...pengungkapan hal tersebut di tengah2 forum merupakan hal yang kurang sepatutnya dibicarakan, karena akan memperenggang jalinan silaturahmi yang sudah ada. Ada pula yang berpendapat lebih kepada letih!! yah letih, karena berapa banyaknya kita berbicara..toch akhirnya akan berakhir sama seperti yang sudah-sudah, di dengar, diperbincangkan, lantas dilupakan bahkan menguap membumbung tinggi ke awan.
Dilema memang, tapi itulah faktanya...mau atau tidak, setuju atau tidak....kondisi itulah yang saat ini kita hadapi. Ibarat sebuah permainan...mungkin kita sudah terlalu lama duduk dibangku cadangan, makan, minum, tidur digaji dan bahagia dan terbiasa tidak terusik dengan keadaan yang konon kita tau ada yang tidak beres di tanah yang kita pijaki saat ini. Tapi kita tetap diam, seakan itu bukan masalah, lah kalo mao bermasalah kenapa tidak dari dahulu..kok baru2 ini aja hal tersebut diangkat menjadi sebuah masalah dan topik yang hangat diperbincangkan??
Laen dulu laen sekarang....ini era 2000-an dulu masih zamannya Ali Sadikin!! sekarang ini Fauzi Bowo..laen tahun, laen orang! laen juga kebijakan. Sehingga kita sudah terbiasa hidup tanpa konflik, yang mungkin...dulu baru kita tanam bibit konflik tersebut, sedikit-demi sedikit konflik itu akan berbuah dan berkembang menjadi satu masalah baru.
Kalo bicara tega, tegakah...kita meninggalkan anak-anak, cucu, cicit kita di garuk, di bolduzer hanya karena ketidak mengertian mereka tentang apa yang sedang terjadi? hanya karena keinginan, ego kecil kita untuk tidak terusik oleh masalah di zaman kita hidup:?? sementara kita meninggalkan beban dan permasalahan yang kadarnya sangat melebihi batas dari ketidak tahuan keturunan kita akan status dan sejarah dari mana sebenarnya masalah itu muncul.
Mari kita Kaji kembali....kita terlahir bukan untuk disesali sebagai si pembuat masalah, si penelantar pekerjaan yang semestinya dapat kita selesaikan hari ini. Ingat lah, kalo kita saja belum mampu..menyelesaikan hak dan kewajiban yang semestinya kita selesaikan ketika H. Satirih meninggal, bagaimana keadaan beliau saat ini?? akankah beliau akan dihisab?? berbicara tentang hal itu, ada sebuah hadist yang berbunyi:" Sesungguhnya tidak akan beranjak kaki anak cucu adam nanti di hari kiamat sebelum dia ditanya tentang 4 perkara, 1) tentang umurnya untuk apa dihabiskan, 2) tentang masa mudanya untuk apa ia pergunakan. 3)tentang ilmunya bagaimana ia amalkan. 4) tentang hartanya dari mana ia dapat dan kemana ia dermakan."
Perhatikan, Menurut hadist diatas, tentang harta...Nabi Muhammad SAW menegaskan tentang cara, masuk dan keluarnya harta tersebut. Harta bukan hanya uang, bendapun juga dapat dikategorikan sebagai harta. Nah, terpikirkah oleh kita....harta yang telah H. Satirih Wariskan kepada kita, telah kita kelola denga sebaik-baiknya dan kita bagi-bagi dengan baik kepada orang-orang yang seharusnya menerimanya?? penulis berharap untuk dijawab di dalam hati kita masing-masing.
Sudah setua ini, kita baru ujug-ujug ngukur bagian si A sekian, si B sekian, si C sekian....kemaren2 kemana aja? memang tidak ada kata terlambat, tapi untuk hitungan manusia yang hidup di alam Dunia, 1 hari di akhirat...itu ibarat 10 tahun di dalam hitungan dunia. So' gimana, dan berapa lama kita menelantarkan yang seharusnya kita kerjakan saat H. Satirih meninggal??
Makanya terkadang kita bingung, apa dulu kita belum tahu...atau kita tidak mao tau? nah kalo tidak mao tahu....dari dulu sampe sekarang, penyakitnya juga gak jauh dari itu, "Gak mao Tau"!! tapi ada nilai positif yang dihasilkan dari perbincangan kemaren, kami melihat adanya angin Perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Kalo Nabi pernah bersabda:"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemaren maka ia merugi, Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemaren maka ia termasuk orang2 yang dilaknat". Kenapa?? karena tidak adanya perubahan yang ke arah yang lebih baik dari umur, waktu, nikmat yang Allah telah berikan kepada kita sebagai kompensasi kita untuk berbuat lebih baik. Lebih baik bukan dalam arti sempit, tapi baik untuk diri kita....juga BERMANFAAT bagi orang lain, yang kita kenal kah, atau keturunan kita yang nantinya akan lahir Puluhan tahun, bahkan ratusan tahun setelah kita.
Walau sempat "jalan di Tempat", tapi perubahan sudah mulai terlihat, dan beruntung, koreksian itu dari generasi yang paling muda. Kalo salah, yah wajar...karena mereka belum hidup ketika itu, kalo kurang sopan, yah mohon dibukakan pintu maaf karena pertanyaan itu memang lahir karena desakan pertanyaaan yang harusnya terjawab dari puluhan tahun lalu.
Akhir kata, kami bahagia...karena pintu kearah yang lebih baik telah terlihat, tinggal sama-sama kita samakan barisan, visi, misi dan silaturahmi antara kita untuk sama-sama menjadikan semuanya lebih baik dari sebelumnya.

TANAH KOE..SENGKETA!

Siang itu tepatnya tanggal 03 Februari 2008 berlokasi di kediaman saudari Susi & Priyono di daerah Perumahan jl. Tangkas 4 di wilayah Jakarta selatan. Ketika itu bertepatan dengan acara Arisan Keluarga Satirih, padaawal mulanya, pembicaaran dan susunan acara pun terkesan seperti biasa, dari mulai pembukaan, sambutan dan acara tausiah agama. Tetapi menjelang acara pengocokan arisan di bagian acara usulan dan ide serta saran, ketika itu ada seseorang dari cicit keturunan H. Satirih yang berbicara yaitu saudari Nena, beliau generasi ke 3 dari keturunan H. Satirih beliau memaparkan tentang kegiatan yang beliau ikuti dan beberapa kesibukan yang sedang beliau jalani hingga kini.
Kesibukan dan kegiatannya berhubungan dengan Lembaga Bantuan Hukum atau yang lebih kita kenal dengan LBH. Saat ini beliau sedang membantu sengketa dan perebutan lahan di daerah Barito yang dahulunya dihuni oleh para pedagang ikan yang berjualan di area dekat dengan Gereja Mahakam. Lokasi tersebut saat ini diperuntukkan sebagai area taman kota oleh Pemda DKI Jaya yang digawangi oleh Mr. Fokke (Gubernur DKI Jaya).
Singkat cerita, Nena memaparkan tentang ilustrasi sebab dan hal-hal yang berkaitan dengan kasus yang terjadi di Barito tersebut serta bagaimana kesewenangan dan gaya pemerintah daerah dalam menanggapi hal ihwal bangunan yang menurut mereka masuk jajaran daerah "tidak bertuan" alias tidak sesuai dengan peruntukan yang telah disusun dalam Site plan tata Kota Propinsi DKI Jaya.
Selanjutnya, Saudari Nena menyampaikan tentang tanda tanya yang mungkin bukan hanya nena, ataupun yang ada saat arisan itu berlangsung yang ingin bertanya, bahkan mungkin telah bertanya tapi mungkin, hingga kini jawaban yang pastinya hanya pada "Pasir Berbisik" dan "Rumput yang bergoyang" saja. Pertanyaannya berkisar Tentang status tanah yang ditempati oleh para orang-orang tua keturunan dari H. Satirih?? bagaimana awal mulanya, statusnya, hingga kelanjutannya nanti?.
Hal tersebut wajar terlintas dibenak kita, karena hal tersebut memang terkesan sebagai bahan berita yang dibahas pada lingkup generasi yang muda-muda yang pastinya belum tahu secara detail cerita serta sejarah yang terjadi dari tempat yang dihuni saat ini, yang konon, sebagian orang tua kita menganggap tempat itu sebagai Tanah Air ke-2 setelah bangsa Indonesia ini ada. Karena semenjak beliau lahir, hingga kini bahkan ada beberapa yang sudah meninggal, kasus dan cerita tentang tanah ini pun seakan bagaikan sebuah legenda layaknya legenda Danau Toba dan cerita rakyat sang kuriang!!.
Setelah mendengar pemaparan singkat jelas dan padat yang disampaikan saudari Nena ditambah dengan penjelasan yang disampaikan Saudara Adi, dan Cing Hasan serta H. Djamal. Maka, yang ada kini adalah sebuah Tanda Tanya Besar, Kenapa Hal sedemikian ini harus terus dipendam dan tidak di urus secara tuntas hingga selesai? bukankah H. Satirih sudah meninggal lebih dari 30 tahun yang lalu? apa karena kita tidak mengerti? apa karena kita tidak Peduli? sebetulnya pemaparan Nena adalah bentuk sebuah pemberontakan dari segala pertanyaan dari fenomena kisah yang ada selama ini. Seharusnya kita malu....malu kepada keturunan kita, kok hanya yang semacam ini tidak dapat terselesaikan sampai saat ini. Itu Cicit H. Satirih yang bertanya...Jawab, Coba dijawab!!! ternyata kebisuan dan keheningan yang hadir sebagai pertanyaan Nena tadi...Mungkin, akan terjawab, apabila api sudah melalap, apabila buldozer sudah mulai menggaruk bangunan kita. Sehingga layaknya kaum bani Israil yang berteriak bertobat dan bertobat ketika Allah menenggelamkan mereka lantaran mereka tidak mengimani apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS.
Intinya, bobot yang ada dari keberlangsungan arisan ini hanya sebatas pada pertemuan bulanan atau liqo biasa yang pada hakekatnya dapat dikembangkan sebagai wahana dan sarana untuk membina apa saja, sehingga ketika kembali ke rumah masing2, bukan hanya buah tangan yang diperoleh, tapi juga pemikiran dan pola kehidupan positif yang dapat ditransfer dari setiap sesi perbincangan yang ada dan dikemukakan ketika arisan tersebut berlangsung. Sehingga bukan tidak mungkin, arisan itu menjadi satu kerinduan yang mendalam dan kehadirannya amat ditunggu2 disetiap bulannya, karena dalam arisan tersebut diisi bukan hanya sebatas menanyakan kabar semata, tapi juga memberikan solusi, entah di bidang ekonomi, bisnis, pendidikan, sosial dan berbagaimacam polemik yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari.
Kini timbul pertanyaan, "Mungkin atau tidak Arisan kita kita bentuk seperti yang kami kemukakan diatas??? jawabannya Jelas, seperti hal-nya pertanyaan:"MAo apa tidak dikelola semacam itu??kalo mao, tinggal saat yang tepat, Kapan?? Ya, Sekarang!! karena kita hidup adalah sebuah Perebutan dengan sang waktu untuk terus berkarya dan beramal. Tampuk kepemimpinan sudah dialih serahkan kepada kaum muda, sekarang bola sudah ditangan..tingga ldi tendang ke gawang apa di tendang ke luar lapangan...Semoga Kasus, Tanah ini ada titik terangnya...dan menjadi awal mula kebangkitan pemikiran yang ada dalam diri kita untuk lebih menggali potensi yang ada dalam diri kita masing-masing.
Besar Harapan kami, sebagai insan muda mari kita runtuhkan "Tembok China" yang ada di dalam hati kita, ingatlah tidak selalu yang namanya muda itu kurang dari pengalaman, Tidak selalu yang muda itu salah, tidak selalu yang muda itu yang tidak mengerti, Tidak selalu dunia ini berada dalam pemikiran orang-orang yang sudah tua.....kami menghargai dan menghormati, dan itulah kewajiban dari setiap yang anak kepada para orang tuanya. Kini mari kita benahi semua yang tersisa, Yang kita punya hanya ini...maka pergunakanlah dengan sebaik-baiknya. Dan jangan pernah berfikir, bahwa kasus yang di Barito, Maruya hanya untuk para warganya saja, mungkin sebentar lagi...yah, hitunglah timer dari sekarang,....kita pun akan tidak jauh berbeda, layaknya sebuah kematian yang menghampiri setiap jiwa yang bernyawa.

04 Februari 2008

BERITA DUKA

Mertua Saudara Farid

Malam Jumat, Tanggal 31 Januari 2008 kemarin...penulis sempat bersepakat untuk bertemu saudara Farid Bustomi untuk dibantu diantar ke tempat pengobatan alternatif di daerah jakarta timur. Karena kebetulan, mertua dari penulis memang sedang dalam keadaan kurang sehat sehingga butuh alternatif pengobatan yang paling tidak sedikit membantu derita yang mertua beliau derita selama ini. Kebetulan, saat itu mertua dari saudara Farid juga sedang bolak-balik berobat di tempat yang sama. singkat kata, kami semua berharap, semoga keadaan orang tua kami dapat kembali pulih seperti sedia kala.
Maka pada malam jumat itulah, kami sepakat untuk bertemu di tempat yang telah disepakati..setibanya kami disana. Kami sempat terpana sejenak..bapak Rahmat (Mertua Sdr. Farid) yang dahulu kami kenal, adalah orang yang sehat dan segar bugar, entah kenapa...pada saat kami ketemu waktu itu, kondisi yang kami saksikan amat sangat mengenaskan...beliau sudah terlihat amat lemah, dibalut tubuhnya yang beranjak tua...tergambar penderitaan sakit yang amat sangat melelahkan. Tak tega rasanya untuk melihat penderitaan beliau yang begitu amat dahsyatnya. sempat terkumpul airmata di pelupuk mata kami melihat beliau yang amat tegar dalam menghadapi cobaan yang Allah berikan. tak kala kami sapa beliau dengan senyum yang penuh kehangatan seraya menyapa kami, :"Sudah lama ki? badan papap lagi kurang enak nih, doain yah...moga-moga cepat sembuh". seketika kami hanya bisa terdiam, betapapun...kami saksikan, yang beliau rasakan lebih dari rasa sekedar sakit yang beliau rasakan. sungguh...beliau begitu tegar dalam menjalani cobaan sakit yang diberikan Allah.
setelah bersama kami masuk ke dalam tempat pengobatan alternatif, dan tiba saat kami diperiksa. therapys yang menangani beliau menerangka, bahwa sakit yang beliau rasakan amat sangat sakit, semoga Allah memberikan kesehatan kepada beliau dan diangkat seluruh penyakit yang saat ini beliau derita.
setelah selesai, kami segera keluar..karena banyak pasien yang datang dan ingin berobat seperti kami. setibanya di luar, kami bersalaman seraya berkata:"Pap..mudah2an lekas sembuh yah...biar cepet sehat, semoga sakit papap diangkat oleh Allah SWT." sambil tersenyum beliau dengan suara yang lembut berkata seraya berbisik:"Amin ya Allah, terima kasih ya ki".
setelah itu kami berpamitan untuk pulang ke tempat kami masing-masing, dan saling berjanji, apabila ada kesempatan ingin berobat kembali, tolong saling kontak sehingga bisa bertemu dan berbarengan berobat seperti saat ini.
Tiba Hari sabtu tanggal 02 februari 2008, saat jam 12.00, saudara farid menelpon ke tempat kami, menanyakan kabar orang tua kami yang juga sedang sakit, setelah lama berbincang-bincang via telepon, akhirnya kami sepakat untuk mencoba pengobatan lainnya di jalur alternatif tepatnya di shinshe yang ada dikawasan Sawah Besar. setelah sepakat akhirnya farid sepakat untuk singgah di tempat kami setelah shalat dzuhur, sambil membawa bapak rahmat untuk sama-sama berobat ke shinshe tersebut. 10 menit berlalu, tiba-tiba telpon di rumah kami berbunyi, ternyata dari saudara farid, beliau mengabarkan bahwa bapak rahmat sudah meninggal!!! Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun....tiada kata yang bisa kami sampaikan, semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT.
"Selamat Jalan bapak Rahmat"